Minggu, 13 November 2011

Fakta Yang Dihadapi Siswa di Era Digital Native


Kank ,apa saja yang patut kami cermati menghadapi siswa saat ini dengan gaya hidupnya di era internet..?


Sebagai guru saat ini harus menyadari bahwa siswa yang dihadapi perubahan yan signifikan dari siswa yang patuh total menjadi siswa melek ICT.Salah satu perubahan yang mencolok adalah guru saat ini harus mau tidak mau ,suka tidak suka ,harus mengikuti perkembangan itu.Dalam aktivitas pembelajaran sehari hari sebagai salah satu upaya meraih hati dan pikiran siswa ditengah aktivitas siswa yang kadang jauh dari semangat belajar.
Ada beberapa fakta yang harus disadari para guru:
Fakta pertama: kecepatan informasi yang sampai kepada siswa jauh lebih cepat dari pengetahuan yang dimiliki guru sendiri.Bahkan dalam hitungan detik.Karena itu guru tidak boleh malu untuk “belajar “ pada siswanya.
Fakta kedua:Informasi yang diterima siswa beragam bahkan informasi yang bisa mengarahkan kepada perilaku negatif.Yang tidak jarang bisa membuat siswa kebingungan bahkan kecanduan.Tidak jarang menggunakan akun jejaring social siswa bisa menyampaikan keluhan antar sesama teman di dunia maya.Guru sudah saatnya melihat pentingnya “conversation” bersama siswa guna memberikan arahan dan rekomendasi penggunaan ICT secara sehat.
Fakta ke tiga:Guru harus meninjau ulang hubungan transaksional dengan siswa yang sudah dilakukannya . Pada kenyataannya model pembelajaran "teacher orientation" masih mendominasi , metode ceramah,komunikasi satu arah ,hanya guru yang benar bahkan tidak menghargai kritik siswa.mengingat siswa makin berdaya dan menyadari “posisinya” maka komunikasi horizontal bagi guru harus dikuasai yakni; dialogis,setara &sejajar ,lebih punya empati dalam membina hubungan saling pengertian,persahabatan dan kepercayaan
Fakta keempat : Guru harus menyadari bukti bahwa siswa membutuhkan saluran pelepasan emosi ,dengan adanya gadget mereka memiliki media komunikasi partisipatif dan interaktif sehingga mudah berhubungan antar sesama pengguna dunia maya. Kemampuan guru mengakomodasi kebutuhan siswa untuk didengar dan ingin bicara dengan memposisikan diri sebagai sahabat siswa.
Ketika guru mampu menjadi “sahabat”-siswa maka dapat menciptakan pengalaman bagi siswa belajar menyenangkan,semangat bekerja sama dan meningkatkan gairah meraih prestasi…

Sabtu, 12 November 2011

Dokter ,Cita Cita Saya Sejak Kecil


Seusai acara Memberikan Seminar Saya bertemu Dr .Ahson yang juga menjadi nara sumber pada acara itu ,seperti biasa saya mencoba mengali pengalaman suksesnya sebagai “mantan” mahasiswa kedokteran.

“Meski bukan dari keluarga dokter , saya tetap ingin mewujudkan cita cita saya sejak kecil yaitu menjadi dokter.Saat saya punya cita cita itu sejak kelas IV SD saya terus membayangkan menjadi dokter.Saya banyak kumpulin dan baca artikel tentang kesehatan dari manapun ,majalah Koran,buku buku bekas terutama yang berbau teori gitu.Hampir sepulang saya selalu main ke perpustakaan yang cukup dengan naik sepeda sudah nyampai..Namun saya juga bukan kutu buku ,saya juga senang bermain sepak bola,berenang dan bermain main dengan teman sekampung”.

“”Orang tua saya sportif dan mendukung saya ,saat saya gagal masuk SMA Negeri saya memilih masuk SMA swasta yang menegakan disiplin walaupun bukan bukan SMA bonafid.DiSMA itu minat dan bakat saya dibidang IPA dapat diakomodasi dengan baik.Karena para guru membimbing besarnya rasa ingin tahu dibidang kesehatan yang saya miliki..Para guru menciptakan suasana kompetisi dibidang prestasi akademik. Kalau liburan untuk memperkuat impian saya itu saya sering main ke Fakultas kedokteran foto disana,banyak teman mengatakan saya seperti orang gila .Tapi saya cuma ketawa ketawa saja..Saya selalu melatih diri saya dengan beban yang lebih berat dari teman lain yaitu mengerjakan latihan soal kelas diatas saya…seperti saat kelas I SMA saya mengerjakan latihan soal kelas II ,ini yang me mudah kan saya kelak lolos UMPTN”

Saya diterma di Fakultas Kedoteran lewat UMPTN tanpa belajar di LBB,ya karena saya rajin berburu soal saat kelas III SMA dan kalau saya tidak tahu jawabannya saya sering konsultasi kepada guru Mapel di sekolah saya itulah kunsi sukses menembus perguruan Tinggi ..Saat saya sudah menjadi mahasiswa kedokteran saya lebih banyak mencurahkan waktu di kampus ,saya banyak membaca literature literature kodokteran di perpustakaan kampus ,Hasilnya tidak mengecewakan saya selalu meraih Indeks Prestasi Akademik yang memuaskan.Disitulah saya menemukan "chemistry "dengan ilmu kedoteran yang saya cita citakan sejak kecil .Prinsip hidup saya ,bagaimana memberikan kemanfaatan sebanyak banyak nya bagi masyarakat..
.

Dab beliaupun pamiit segera melanjutkan tugas,sukses dok!

Jumat, 11 November 2011

Menggunakan Video Pembelajaran Sebagai Media Belajar Siswa SD


"Disekolah kami ada Televisi ,Video Player dan Sound Sistem , serta beberapa VCD pembelajaran.saya ingin menggunakannya sebagai media belajar siswa melalui pemutaran film pendek yang berkaitan dengan materi Pelajaran,Langkah apa yang bisa saya lakukan..?"


Mengajak siswa belajar melalui tayangan film akan membuat anak lebih bisa menghayati serta mengerti lantaran ada visualisasi yang dapat mengembangkan logika berpikir serta imajinasi siswa. ,maka siswa perlu dikondisikan agar dapat menikmati tayangan film tersebut dengan dukungan audio yang memadai.

Adapun beberapa langkah yang bisa dikembangkan:

1. Terangkan aturan main dalam menyaksikan film yang diputar.

2. Kenalkan penggunaan Media VCD dan Televisi dengan cara memeragakan cara pemakaiannya .sehingga secara tidak langsung anak mendapat pengetahuan merangkai hubungan antara TV .Video Player dan Audio.

3. Selanjutnya mintalah anak menyimak beberapa point penting yang bakal dijadikan bahan pembelajaran.

4. Setelah pemutaran berlangsung maksimal 15 menit ,dituntut kepiawaian guru dapat mengendalikan remote agar anak bisa mempelajari point penting yang ingin dibicarakan. Maka guru perlu mengadakan tanya jawab dengan siswa tentang point yang ingin dipelajarinya.

5. Beberapa anak ditunjuk untuk menjelaskan apa yang dilihatnya tadi bercerita menurut versi mereka masing masing.

6. Guru menyimak dan sesekali membetulkan penggunaan bahasa Indonesia sesuai ejaan yang benar.Tanpa membuat siswa memiliki rasa bersalah.

7. Ajaklah siswa untuk menemukan pesan moral sebagai kesimpulan yang bisa diambil saat itu.

Dengan menggunakan media TV anak serasa bergembira menonton TV dirumah sambil belajar,Belajar ilmu pengetahuan itu sendiri,belajar bahasa ,belajar tampil didepan kelas belajar berani bertanya jawab dan belajar menggunakan media ICT sebagai sarana belajarnya

Guru BK Kini Sahabat Siswa




Saat saya mengunjungi sebuah sekolah pasca pelatihan “Pelayanan Prima Dunia Pendidikan" ,saya iseng masuk ruang Guru BK,saat saya masuk disambut ramah oleh beberapa guru BK disana ,ada meja untuk konseling ,disebelahnya ada seperangkat komputer dan ada ruang santai yang berisi sofa dan sedang ada aktivitas siswa menikmati “hukuman “ dari guru BK karena beberapa kali terlambat. Tidak nampak ketegangan di wajah anak SMU yang terlambat masuk sekolah itu .Bukan saja "hukumannya mendidik" namun guru BK nya nyaris "sepantaran umurnya" lulusan fresh graduate…seperti kakak adik.

Seiring banyaknya keselutian yang dihadapi siswa atas perkembangan pribadinya,guru bimbingan karir/konseling (BK) dituntut untuk mengoptimalkan fungsi perannya sebagai ajang "curhat" siswa.Bukan saja pada jam sekolah bahkan diluar jam sekolah pun perangkat ICT akan banyak membantu seperti konseling via facebook dsb.

Stigma bahwa guru BK cenderung menjadi" polisi" bagi siswa ,interogator,masuk ruang BK adalah siswa bermasalah semestinya segera berubah dengan repositioning “Guru BK Sahabat Siswa”. Penyebab stigma guru BK dianggap sebagai polisi adalah kerap belum berdaya dan diberdayakan nya guru BK dalam membantu persoalan siswa termasuk merancang karir siswa di masa depan.Selain sebatas menjalankan perintah sekolah atas perilaku buruk siswa sering juga guru BK sendiri memasang wajah tidak bersahabat kepada siswa agar siswa tidak melanggar peraturan."sehingga seumur umur jangan sampai berurusan dengan BK.".di mata siswa

Berangkat dari potret itulah paradigma baru bagi guru BK adalah sahabat siswa. kuncinya menjadikan guru BK tempat siswa " curhat",bertanya ,merancang masa depan nya sekaligus mendapat solusi yang tepat . Mengingat culture siswa adalah enggan face to face interaction maka semestinya guru Bk juga dapat memanfaat ICt seperti jejaring social sebagai media konsultasi dan komunikasi dengan siswanya.

Pada tahap inilah guru BK adalah ‘enthusiastic staff” yang dapat memotivasi siswa untuk tangguh menghadapi tantangan hidupnya.

Untuk mencapai situasi yang ideal ini guru BK dituntut memiliki kompetensi lebih dari cukup dalam soal knowledge,skill sikap mental ,dan juga kemampuan berkomunikasi yang baik ,memiliki pengausaan tehnik konseling yang empati sesuai dengan jenis pelayanan yang akan diberikan Kuncinya jangan sampai siswa justru tidak mendapatkan saluran 'kartarsis "nya pelepasan emosi .Karena hal itu akan membuat siswa mencari jalan keluarnya sendiri yang cenderung negatif..Karena sesungguhnya Guru BK adalah sahabat Siswa

Selasa, 08 November 2011

"Dosa" Guru yang Tidak Disukai Siswa


Saat saya memberikan motivasi kepada siswa sengaja saya berikan angket tentang hal hal yang paling tidak disukai dari guru disekolah.Meskipun bukan sebuah survey namun saya pikir patut di cermati lantaran fakta yang ditulis anak anak itu kondisi nyata dilapangan.

Para siswa tersebut menuliskan lengkap dengan alasannya.

Saya tidak suka guru yang suka menggunjingkan kekurangan kesalahan atau kenalakan siswa lain baik dikelas kepada siswa atau pun kepada sesame guru.Sekilas lucu dan jadi contoh tentang perilaku negative tapi tidak sepatutnya.

Saya tidak suka guru yang sok Jaim, ingin dihormati tapi tidak dapat mengendalikan diri. Buat saya perilaku ini hanya menjadikan saya malas melihatnya,apalagi belajar bersamanya..

Saya paling tidak suka guru yang tidak berwibawa dalam pengendalian kelas,biasanya guru bersangkutan hanya bisa mengajrkan moral tapi dia sendiritidak melakukannya.Ini membuat saya dan teman teman tidak tertarik mengikuti pelajarannya.

Saya tidak suka jika memberi PR terlalu banyak dan habiskan uang ,foto copi beli ini itu,sudah begitu tidak dinilai dan malah dilupakan. Kadang buat saya serba salah .nggak ngerjakan dapat hukuman mengerjakan tidak dinilai.

Saya tidak suka guru yang mengajar dikelas tampil monoton dan membosankan,sudah teori yang diterangkan rumit dan tidak bisa dimengerti .Tidak diberi kesempatan bertanya apalagi minta penjelasan.Akibatnya saat UTS/ UAS ya jeblok nilainya.

Saya tidak suka guru yang tidak adil dan suka dendam sehingga saya jadi takut kalau mau mengkritisi perbuatan yang tidak semestinya.Apalagi kalau nilai ulangan saya yang bagus jadi jelek dirapot gara gara rasa tidak suka pada muridnya..

Bersambung..!