Sabtu, 14 Januari 2012

Seri Pendidikan Karakter Bagi Guru:Implementasi Karakter Religius sebagai Kompetensi Kepribadian Guru



Kank ,bukankah semestinya keteladanan guru kepada peserta didik dalam menciptakan indicator kelas pada pelaksanaan pendidikan karakter dilakukan semua guru bukan hanya guru agama ,lantas bagaimana seorang guru harus melakukan..?


"Apakah kalian menyuruh manusia berbuat kebaikan tetapi kalian melupakan diri sendiri…Qs al –Baqarah 44.
Perhatikan pula Qs Al Hasyr 11, Allah mengangkat derajat orang beriman diantara kalian lagi berimu pengetahuan ,dengan beberapa derajat yang lain.”
Deskripsi religius adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya ,toleran terhadap pelaksanaan agama lain dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Sedangkan indikator dari sub Kompetensi Kepribadian Guru Profesional ,memiliki ;


akhlak mulia dan dapat menjadi teladan tercermin dalam perilaku bertindak sesuai dengan religius (iman ,taqwa ,amal shaleh ,jujur ihklas dan suka menolong) serta memiliki perilaku yang dapat mempengaruhi siswa untuk taat menjalankan perintah agamanya..

Karakter religius ini sangat dibutuhkan oleh siswa dalam menghadapi perubahan zaman dan degradasi moral,karena itu berkewajiban menjadi contoh perilaku atas terlaksananya sikap dan perilku religius bagi siswa. Dengan mengembangkan budaya sekolah dan budaya kelas menjunjung tinggi nilai nilai religius seorang guru akan mudah memperkenalkan ,membiasakan dan menanamkan value yang unggul dan mulia kepada siswa.Karena saat ini bukan IQ dan prestasi akademik yang membuat SDM berdaya saing ,handal dan tangguh namun juga nilai nilai religius.
Sikap mental sebagai implementasi karakter religius adalah sebagai berikut…
Pertama :guru guru dapat menyayangi peserta didik dan menghargai potensi yang dimiliki peserta didik.
“berbahagialah orang orang yang ikhlas ,mereka membawa pencerahan yang mampu menguakkan gelapnya fitnah”. (HR Abu Naim dari Tsauban ra)
Siswa harus memiliki perasaan ,disayangi sebagai seorang anak yang memiliki kebutuhan psikologis dicintai agar merasa nyaman didalam kelas.Sehingga lebih mudah baginya belajar secara optimal.Sedangkan menghargai potensi siswa membuat mereka percaya diri untuk berani menunjukkan prestasi yang dimiliki.Seorang guru harus memiliki perilaku kasih sayang tanpa membeda –bedakan siswa agar mereka mampu mengendalikan kecemasan yang dikarenakan persoalan pribadi menjadi dorongan positif untuk berprestasi.Mulai dengan bacaan “Basmalah” sebelum mengajar karena makna dalam bacaan “basmalah “adalah Ikrar untuk melakukan perbuatan berlandaskan kasih sayang.
Kedua : selalu menjaga tuturkata ,sikap dan perilaku baik dan benar.
“barang siapa memulai perbuatan buruk maka dia akan mendapat dosanya dan dosa oaring yang mengerjakan pekerjaaan buruknya sampai hari Kiamat “(hadis Shahih)
Seorang guru tidak sepantasnya mengucapkan ucapan yang tidak pantas ,menghina atau meremehkan siswa.Sekalipun dengan dalih “guru juga manusia” ingat guru diposisikan sebagai digugu =ditaati dan ditiru ,dengan kata lain guru yang memiliki karakter religious adalah yang cerdas emosinya( EQ) dan cerdas spiritualnya (SQ).Mengingat seorang yang sulit mngendalikan emosinya dikategorikan oleh ahli jiwa sebagai orang yang mengalami gangguan emosi.Menurut Tony Lake dalam bukunya How To Cope with Your Nerves. “cara berperilaku jadi menyakitkan dan jadi menyedihkan bagi dirinya sendiri dan orang sekelilingnya. Perasaan mereka terganggu ,mereka tidak bisa menjawab tututan hidup sehari hari dengan cara biasa. Mereka adalah orang yang menderita sakit secara emosional”.Siswa perlu merasakan proses mengalami indahya diperlakukan dengan baik agar dapat belajar menjalankan pengalaman religiusnya (experiential learning)
Saya pikir dua point ini saja dulu yang minimal harus dijalankan sebagai bagian dari strategi implementasi amalan karakter religius seorang guru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar